Komponis kini #2

Senja bulan Juli 2016 saat mendung tipis menggelayut di atas Bentara Budaya Bali (BBB), kaki akhirnya menapak untuk menyaksikan pentas Komponis kini #2: Tribute to Lotring. Komponis kini merupakan agenda rutin bulanan BBB yang dikurasi oleh musisi dan komposer I Wayan Gede Yudana, Wayan Sudirana dan Dewa Alit, sebagai upaya melahirkan “gigi-gigi baru” dunia musik baru di Bali, agar wajahnya tetap ganteng dan berseri.

Menyimak rekaman pengantar Yudana dalam Komponis kini #1, bahwa banyak sekali komposer muda yang bagus dan hebat yang membutuhkan tempat tepat untuk mempresentasikan musik baru yang dianggap “agak serius” di tengah budaya gemerlap saat ini. “Kini” selalu berkaitan dengan “Dulu”. Dulu para maestro telah melahirkan karya yang megah dan monumental. Namun itu dulu – sudah selesai – maka kita perlu memikirkan hari ini, generasi baru yang berproses dengan musik baru sehingga kebudayaan ini tidak terputus.

Ruang yang tercipta dari kehadiran Komponis Kini#2 menjadi jembatan penghubung dulu dan kini – I Wayan Lotring dengan gubahan klasik Sekar Ginotan dengan I Putu Gede Sukaryana dan I Putu Adi Septa Suweca Putra yang terpisahkan waktu nyaris satu abad. Dalam Komponis kini #2 yang diselengarakan pada Minggu (24/07/16), baik I Putu Gede Sukaryana dan I Putu Adi Septa Suweca Putra, merepresentasikan karya klasik Sekar Gendotan yang dituangkan dalam medium yang berbeda.

Memilih Gender Wayang

Malam itu I Putu Gede Sukaryana alias Balot mengakui dalam perjalanannya mendekatkan diri pada Lotring, Ia sangat kagum ketika menyaksikan rekaman video dari tahun 1928 di mana terlihat kualitas karya dan permainan Gurun Lotring memainkan gender wayang yang sangat hidup dan luar biasa.

“Dari situ saya memutuskan untuk memilih menampilkan Sekar Ginotan pada medium gender wayang. Karena ternyata hanya dengan perangkat gamelan yang sedikit – dengan empat penabuh – kita bisa berbuat banyak, menghasilkan komposisi yang bagus.” Ungkap Balot.

Oleh Balot Gubahan klasik Gurun Lotring, Gending Petegak Gender Wayang Sekar Ginotan dibawakan dalam satu kesatuan alur dengan karya komposisi barunya bertajuk Sinrong yang dimainkan oleh empat penabuh dari sanggar seni Ceraken Batuyang.

Sinrong ditarik dari kata Sin atau Isin (isi) dan Rong (ruang) yang yang menjadi gambaran interpretasi Balot menerjemahkan dan merepresentasikan ruang-ruang atau jeda dalam Sekar Ginotan yang memiliki banyak tarikan nafas.

Karya komposisi baru Sinrong juga merupakan wujud dari proses pendekatan diri Balot kepada sosok Lotring, yang memang tidak terlalu dekat dalam proses bermusiknya selama ini. Balot mencoba mendengar dan membaca perjalanan hidup berkesenian sosok Lotring. Mencari untuk menemukan sesuatu yang kemudian dikolaborasikan dengan pengalaman berkeseniannya selama ini, termasuk berkolaborasi dengan musisi dari Italy dan Kanada serta ketertarikannya pada musik India Hindustani, terutama dari India utara yang mempengaruhi tempo komposisi Sinrong.

Lotring dan Semar Pegulingan

Jika Balot memutuskan menggubah dengan asamble kecil, beda dengan I Putu Adi Septa Suweca Putra alias Kuprit yang memilih menampilkan Sekar Ginotan gaya Teges Kanginan. Tabuh semar pegulingan klasik gubahan I Wayan Lotring yang dibawakan oleh gamelan Natha Svara, yang menunjukan Balot dan Kuprit memiliki interpretasi dan imajinasi yang berbeda dalam menerjemahkan Sekar Ginotan

Dari catatan CD Bali 1928 Volume III, disebutkan Sekar Ginotan telah mengalami perkembangan dan memiliki berbagai versi, termasuk di Teges Kanginan yang merupakan pewaris gubahan Lotring dari versi gender wayang Sekar Ginotan kuta ke dalam versi gamelan pelegongan yang masih dimainkan hingga sekarang. Dari gubahan rumit dan terperinci Sekar Ginotan untuk gamelan pelegongan tersebut, Kuprit mengambil inspirasi dan mengimajinasikan sebuah karya yang kemudin diberi judul “Akal”, yang menjadi komposisi penutup pentas Komponis Kini #2 malam itu.

Akal adalah komposisi baru yang dilahirkan dari Ide, gagasan, imajinasi dan pengaruh musikal dari proses bermusik Kuprit selama ini. Kuprit berusaha menemukan sebuah perspektif baru dari gaya klasik Lotring, dengan barungan yang sama seperti yang digunakan oleh Lotring hampir seratus tahun yang lewat.

“Semua gagasan, ide dan imajinasi bisa lahir dan terbentuk menjadi sebuah karya karena adanya Akal yang dimiliki manusia.” Tegas Kuprit.

Dalam penciptaan Akal rupanya Kuprit sangat detail dan tegas dalam menulis komposisinya, sehingga setiap nada atau permainan nada yang tampil untuk diperdengarkan bukan sekedar improvisasi, melainkan sesuatu yang telah diformulasikan menjadi suatu ritme secara sadar yang kemudian ditransfer kepada anak didiknya di gambelan Natha Svara.

Kuprit berharap bagaimana nantinya musik ini dapat bekerja sebagai musik itu sendiri, agar komposisi baru bisa memiliki nilai tawar baru bagi generasi muda yang semoga kedepannya dapat diapresiasi dan dijadikan rujukan dalam berkarya.

Dari dua komponis muda yang tampil dalam Komponis Kini #2, sangat terbaca usaha mereka menghubungkan diri dengan Lotring. Dari menyimak tabuh klasik Lotring mereka menemukan banyak kemungkinan-kemungkinan baru yang bisa dilakukan, yang tentu saja kembali lagi kepada ide, imajinasi dan interpretasi mereka pada karya klaskik tersebut, sehingga menjadi karya kekinian yang dapat disajikan sebagai sebuah menu yang segar kepada penonton.